Usai Sholat Sunah, Pria Paruh Baya Meninggal di Masjid Baiturrahman Pringsewu

Gantaranews.com, Pringsewu – Masjid Baitur rohman pringsewu pekon tambah rejo kecamatan Gadingrejo menjadi saksi bisu atas wafatnya seorang pria paruh baya asal kelurahan Pragaan Daya Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep Provinsi Jawa Timur, Jum’at 03/12/2021.

Korban meninggal menjelang sholat asar, ia sedang melaksanakan shat sunah sebelum asar kemudian tiba-tiba jatuh kebelakang dan kejang, dari informasi yang berhasil dihimpun, korban memang mengidap penyakit darah tinggi, hal ini dikuatkan dengan beberapa obat yang ada di dalam tas korban.

Kapolsek Gadingrejo Iptu Ay Tobing menuturkan, dari beberapa keterangan saksi di lokasi kejadian, sebelum ditemukan meninggal dunia korban sedang menunaikan shalat sunat sebelum shalat ashar di dalam masjid Baitur Rohman.

Pada saat memasuki rakaat kedua tiba-tiba korban terjatuh kebelakang dan kejang-kejang.

Karena mengira korban terkena serangan penyakit epilepsi maka jamaah yang ada di dalam masjid tidak berani menolong dan melaksanakan sholat ashar.

“Ketika sholat ashar selesai jamaah mengecek kondisi korban, ternyata Korban sudah tidak bergerak lagi,” ujarnya mewakili Kapolres Pringsewu AKBP Rio Cahyowidi saat dihubungi melalui ponselnya pada Jumat (3/12/2021) malam.

Mengetahui korban tidak bergerak lagi, kata Kapolsek meneruskan, maka jemaah menghubungi tenaga medis, petugas bhabinkamtibmas dan babinsa.

Setelah petugas medis, polisi dan TNI datang dan melakukan pemeriksaan terhadap korban, ternyata korban sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

“Untuk mengetahui penyebab meninggalnya korban, maka jenazah langsung dibawa ke RSUD Pringsewu menggunakan kendaraan ambulan milik Puskesmas Gadingrejo,” terang Kapolsek.

Disampaikan Iptu Tobing, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan tim dokter RSUD Pringsewu diduga kuat penyebab meninggalnya korban karena terkena serangan stroke ringan.

Hal tersebut diperkuat dengan ditemukannya sejumlah obat-obatan merk Amkodivine (penurun tekanan darah tinggi) yang disimpan korban di dalam tasnya.

“Dari keterangan keluarga korban yang berhasil dihubungi,  menjelaskan bahwa selama ini korban terkena penyakit darah tinggi,” jelasnya.

Lebih lanjut kapolsek menjelaskan, bahwa dirinya sudah bertemu langsung dengan kerabat korban yang berasal dari Lampung Timur.

Keluarga korban mengaku menerima dan mengiklaskan kematian korban serta menolak untuk dilakukan proses Outopsi terhadap jenazah korban.

“Karena keluarga mengaku menerima dan menolak dilakukannya proses autopsi, maka jenazah kami serahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa pulang ke kampung halaman di Sumenep Jawa Timur guna dilakukan proses pemakaman,” ungkap Tobing.

Ditambahkan Kapolsek, saat kejadian korban hanya seorang diri. Korban sendiri diketahui berkeliling kampung dengan berjalan kaki untuk meminta sumbangan dari warga sekitar.

“Sampai saat ini belum diketahui persis arah dan tujuan korban,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.